Sunday, January 27, 2013

Cermin, Oh Cermin!

Bercermin bagi sebagian orang, kaum perempuan muda khususnya, adalah kegiatan yang sangat disukai karena identik dengan berias diri agar terlihat lebih menarik. Terlihat menarik? Siapa yang menolak. Tapi jauh daripada sekadar melihat permukaan luarnya saja, bercermin juga identik dengan introspeksi diri. Mumpung masih Januari, gerbang awal dari sebuah masa baru, tidak ada salahnya kan, bercermin diri?

Saya paling takut bercermin. Apalagi kalau cerminnya cembung, tubuh akan terlihat lebih kembung. Tapi jauh daripada melihat bentuk fisik semata, saya lebih takut lagi kalau cermin itu bisa ngomong. Memaparkan fakta-fakta kejahatan saya selama ini. Dan salah satu bagian tubuh yang tidak pernah bisa bohong adalah mata.

Aneh bin ajaib, mata yang selalu menghadap ke depan entah bagaimana prosesnya terkadang bisa melihat ke dalam diri seseorang pemilik mata itu yang objeknya membelakangi posisi mata secara anatomi. Ya kan? Apa itu namanya mata hati? Mata yang tugasnya mengawasi hati? Hemm, entahlah.

Saat bercermin, mata kita akan melihat ke bayangan mata di cermin. Mata memandang mata. Coba perhatikan lebih dalam. Bukan untuk melihat apakah ada benda asing di mata kita atau ada sesuatu yang aneh di mata kita, tapi lihatlah jauh ke dalam mata itu tepat di bagian tengahnya yang berwarna hitam. Tajamkan penglihatanmu melewati celah diafragma mata, masuk ke dalam seakan menembus semua sel yang ada. Ke dalam, jauh lebih dalam lagi sampai akhirnya pandangan itu jatuh tepat di hatimu. Mungkin awalnya ada pintu yang berusaha menutupinya, mengunci rapat-rapat ruang yang ada di dalamnya. Tapi tak apa, jangan lepaskan pandanganmu karena perlahan pintu itu akan terbuka dengan sendirinya. Dia akan luluh. Kemudian blaar! Semua isinya satu-persatu akan menyerah. Mereka siap didengarkan. Suara-suara itu, yang tahu kemana seharusnya hidupmu berjalan, yang tahu apa sebenarnya yang hidupmu inginkan, hidupmu butuhkan. Sebuah perjalanan. Perjalanan hati nurani.

Bercermin tidak hanya untuk mencari celah dan kesalahan lalu mengeluhkannya. Atau sebaliknya, memuja kesempurnaan lalu membanggakannya.

Bercermin adalah untuk mengetahui siapa diri kita sebenarnya. Jauh di dalam hati.

Selamat bercermin!


Wednesday, November 7, 2012

Mimpi Buruk!!!

Akhir-akhir ini saya sering bermimpi buruk. Memang tidur saya selalu tidak disengaja. Seringkali berniat hanya leyeh-leyeh biasa setelah capek baca materi kuliah, lalu akhirnya ketiduran beneran. Mungkin karena itulah saya tidur tanpa baca doa terlebih dahulu, dan akhirnya bermimpi buruk!
 
Saking buruknya mimpi itu, saat terbangun saya merasa sangat lega sekali. Karena saya yang asli tidak berada di dunia mimpi itu. Dan dunia nyata yang inilah yang lebih baik, yang terbaik! Saya bisa terbangun sambil sulit bernafas karena ketakutan. Namun setelah sadar bahwa saya hanya baru saja bermimpi, saya bersyukur sekali. Sangat.
 
Mimpi-mimpi yang begitu aneh. Bukan mimpi tentang setan atau apalah yang menakutkan. Tapi mimpi yang bisa membuat saya sangat menyesal, dan marah pada diri sendiri. Mimpi yang membuat saya sedih dan kecewa. Mimpi yang isinya saya dikejar-kejar rasa bersalah. Mimpi yang depresif!
 
Secara psikologi, mimpi kadang bercerita tentang apa yang sebenarnya jiwa kita rasakan.
Dan itu berarti, saya sedang depresi? Dalam alam bawah sadar? Masa' sih? Saya nggak terima.
 
Hemm, maksudnya, saya tidak merasa sedang depresi kok. Mungkin ya, hanya stress kecil-kecilan. Tapi bisa jadi, yang kecil-kecil itu menumpuk dan lama-lama jadi besar. Hiiii, saya jadi ngeri sendiri.
 
Entahlah apa yang sedang terjadi pada diri saya.
Yang jelas, tidur bukanlah suatu kegiatan yang bisa dianggap remeh.
Tidur yang berkualitas itu penting. Sama seperti laptop, kalau dinyalakan terus menerus tanpa pernah di pasang ke mode "sleep" pasti baterainya akan cepat habis. Nah, baterailah yang mengeluarkan energi. Kalau energinya habis, bagaimana mau menyala?
 
Dan tidur bukan kegiatan "sambil lalu". Tidur sama seperti makan, nonton, belajar, bermain. Harus diniatkan dan dipersiapkan terlebih dahulu. Misalnya cuci kaki, gosok gigi, dan yang paling penting, baca doa sebelum tidur.
 
Pernah dengar istilah 'bocan' alias bobok cantik? Itu terinspirasi dari film yang judulnya Sleeping Beauty kali ya....  

Wednesday, October 3, 2012

Tumbuh

Kalau ada waktu yang bisa membekukan otak saya, itu adalah LIBURAN.
Kalau ada waktu yang bisa membujuk rayu saya agar hibernasi, itu adalah LIBURAN.
Kalau ada waktu yang bisa membuat sendi-sendi jari tangan saya kaku bahkan hanya untuk menulis, itu adalah LIBURAN.
Kalau ada waktu yang bisa membuat saya berpikir ulang mengapa otak saya bisa membeku, mengapa saya hibernasi sepanjang hari, mengapa sendi-sendi jari tangan sampai kaku, itu adalah LIBURAN.
 
Saya tidak menyalahkan liburan. Saya tidak dendam dengan liburan. Saya justru sedang ingin liburan.
 
Saya ingin menguji diri sendiri. Kalau waktu senggang hadir lagi dengan wujud liburan, apa kamu masih cukup sinting, menggunakan waktu sebegitu luangnya hanya untuk melemahkan diri? Hanya untuk membiarkan tubuh tergerus oleh waktu tanpa berusaha melawan? Hanya untuk tenggelam dalam kenyamanan? Hanya untuk berproses menjadi tua yang bisanya membuat planet penuh tanpa mau membagi manfaat kepada yang lain sedikit pun?
 
Bukan hanya saat liburan. Bahkan di saat waktu luangmu. Kapan pun itu.
Kecilnya diri sudah cukup dijadikan alasan untuk bangun dan berbuat sesuatu. Karena tumbuh bisa terjadi apabila sesuatu itu bergerak!
 
Tidak ada tumbuh yang hanya diam saja, bahkan untuk sebuah sel.
 
  

The another of beginning

Ketika manusia diajari membaca, bukankah sebenarnya mereka dilahirkan untuk menulis?

Bukankah sebenarnya manusia dilahirkan untuk menulis. Karena mereka bisa membaca.

Bekal mereka adalah membaca. Percuma atau sia-sia perjuangan manusia untuk belajar membaca kalau toh seandainya mereka tidak bisa menulis. Bukan tidak bisa, lebih tepatnya tidak mau. Dan itu, suatu keadaan yang ironis.

Dan saya hanya bisa mengutuk diri sendiri.

Bummm!!! Saya jadi.... putri salju! Loh?

Bukan, bukan kue kering khas hidangan lebaran yang bertabur gula halus putih lembut layaknya salju. Tapi beneran seorang putri, yang doyannya makan salju. Nah.

Saya malu sama keyboard laptop -okey, saya emang gak pake tablet- karena jari-jari tangan saya kaku. Nggak selincah dulu saat sibuk-sibuknya bikin laporan penelitian.

Otak saya, hemm, masih belum mencair sepenuhnya. Tapi saya berkomitmen penuh untuk selalu menghangatkannya agar bisa bekerja dengan optimal, maksimal!

Menulis, ehem, kembali lagi ke topik semula.
Menulis sebenarnya bukanlah suatu pekerjaan yang sulit (kalau beneran niat plus ada deadline yang mengancam) dan tidak perlu dibuat sulit. Menulis sebenarnya adalah sebuah cara untuk menuangkan ide yang ada di kepala. Apa pun itu. Sarana untuk menumpahkan semua uneg-uneg atau bahkan teori sinting yang kita buat sendiri. Teori buatan diri sendiri, apa itu nggak cukup keren?
 
Menulis seperti curhat atau sekadar cara untuk menguji, seberapa peka kita dengan keadaaan. Seperti me-review ulang kehidupan atau pelajaran hidup yang sangat berharga. Sebuah cara untuk menghargai hidup, bahwa setiap momennya sangat sayang apabila tidak diabadikan. Lewat tulisan. And that's why, saya nongkrong lagi membuka blog ini dan mulai bercuap-cuap lagi.

Gaya penulisan itu banyak. Dan saya rasa, saya belum menemukan cara saya pribadi. Belum khas. Belum beda. Hanya sekadar: gaya bebas. Hehehehe...

And... this is one of the random.



Wednesday, June 13, 2012

Kotak Ajaib itu Bernama Saya

        Satu hal yang belum saya pahami seluruhnya adalah diri saya.  Ini mungkin karena saya terlalu sering menatap ke depan, ke orang lain, ke sekeliling, tidak ke arah diri saya sendiri. Bisa jadi saya kurang sering menundukkan kepala sampai dagu menyentuh dada, di mana arah pandangnya adalah diri sendiri. Saya jadi merasa jauh, saya merasa terlalu angkuh. Sudah lama rasanya ingin pulang ke diri sendiri.

Apa yang kamu ketahui tentang dirimu?

Pasti banyak, setiap orang punya ceritanya masing-masing. Saya adalah tipe orang yang lebih suka mendengarkan, mengamati, memperhatikan daripada ngomong langsung untuk bercerita. Ibarat sebuah band, saya bukan vokalis, saya bukan pusat perhatian. Saya lebih suka jadi bagian kostum dan tatarias yang bekerja di belakang layar. Yah, berharap bisa jadi tempat curhat colongan para personel band yang necis itu. Ironisnya, saya justru jarang mendengarkan diri saya sendiri.

Kenapa tiba-tiba jadi suram begini?

Oke, akan saya ubah gaya bahasanya.

Ehem, tes... tes...!

Waktu saya masih SMP, saya sering mendengar ungkapan tentang ‘menemukan jati diri’. Saya ulangi, ‘menemukan jati diri’. Langsung terbesit pengertian aneh di benak saya, sekali lagi, tentang ‘menemukan jati diri’. Saat itu saya memang belum paham, dan tidak berniat bertanya pada siapa pun makna dari ungkapan ini. Hanya otak saya yang bekerja, dan saya cukup puas dengan jawabannya. Makna yang terpikirkan adalah, “Orang dewasa mungkin karena sudah terlalu jauh melangkah, mereka justru lupa jalan pulang ke diri sendiri. Ngapain repot-repot dicari, kalau itu jelas diri kita. Diri kita mencari dirinya sendiri? Apa orang dewasa tidak punya sesuatu yang lain untuk dibahas? Rasanya kurang kerjaan sekali.”

Itu dulu, pemikiran saya dulu yang masih bangga berpredikat sebagai anak-anak.

Dan sekarang, saya termakan ucapan saya sendiri. Senjata makan tuan.

Bukan, saya bukannya susah menemukan jati diri, tapi saya sampai sekarang belum selesai menemukan, menggali, mengeksplorasi diri saya sendiri. Saya masih merupakan sebuah obyek yang penuh misteri. Terkadang saya main tebak-tebakan. Terkadang saya hanya ikut-ikutan orang lain – yang pada akhirnya saya tahu bahwa itu sangat melelahkan.

Suatu sore saya ngemall bersama salah satu sahabat saya yang sudah lama tidak bertemu. Seperti biasa, saya tidak banyak bicara. Tapi saya terus tersenyum. Saya mensugesti diri sendiri untuk riang gembira. Saat akan turun lewat tangga berjalan, saya menyapu pandangan lantai bawah yang cukup membuat saya bergumam tanpa maksud apapun, “Hemm, Galaxy Mall.”

Itu hanya gumaman, mungkin saja tidak berarti apa-apa. Tapi itu berhasil mengalihkan perhatian sahabat saya yang sedari tadi sibuk memperhatikan pesan di telepon genggamnya. Dia lalu berkata, “Apaan, sih? Ah kamu, selalu gitu. Kebiasaan deh.”

Saya jadi memperlebar senyum, refleks. Seperti ada sengatan listrik yang berbeda setiap kali ada yang mengatakan hal semacam itu. Pengen sekali saya bertanya, “Memangnya kenapa? Selalu gimana? Oh, jadi aku kayak gitu ya? Kamu kok tahu? Kamu kok hafal? Wah, perhatian ya? Padahal aku sendiri nggak tahu kalo aku selalu begitu. Kamu kok lebih tahu aku daripada diriku sendiri?”

          Saya pun hanya senyum mengambang dan bingung bagaimana cara mengembalikan lengkungan bibir itu ke tempat semula. Saya lalu memutar-mutar lagi pertanyaan yang sama di kepala saya sendiri.

Mungkin memang tidak ada salahnya apabila orang lain lebih bisa menangkap kelakuan kita yang terus menerus dilakukan sehingga menjadi kebiasaan. Logis memang, karena kita harus melihat cermin untuk bisa tahu keadaan diri kita sendiri, sedangkan orang lain tidak. Namun kadang muncul ego bahwa, tidak ada orang lain yang tahu persis bagaimana saya, wong saya sendiri belum sepenuhnya tahu! Tapi tak apalah, terserah orang mau berkata apa. Justru dari orang lain kita bisa mengetahui kekurangan dan kelebihan diri kita. Namun bukan berarti baik buruknya tingkah laku kita harus dinilai orang lain, karena setiap manusia punya standarnya masing-masing tentang bagaimana suatu perilaku atau keputusan seseorang itu benar atau salah. Jadi, bukan orang lain jurinya. Melainkan Tuhan, melalui hati nurani yang sudah disematkan pada diri kita masing-masing. Semua manusia punya hati nurani, yang sifatnya suci dan jujur. Hanya saja sulit untuk mendengarkannya ketika hati ini sudah tak lagi bersih, penuh dengan noda keserakahan, kesombongan, dan ketidakpedulian. Adakalanya, menurut saya, menjadi orang yang ‘ndeso’ jauh lebih aman daripada menjadi orang yang penuh tuntutan terhadap dirinya sendiri, mengejar kehidupan glamour di kota namun penuh dengan keangkuhan. ‘Ndeso’ asal tidak kampungan.

Setiap orang memiliki kotak ajaib dalam dirinya masing-masing yang tidak akan habis dan selesai untuk dieksplorasi karena setiap hari ia tumbuh dan berkembang. Ia adalah jiwa. Tubuh yang segar bugar tanpa cela pun bukan jaminan untuk hidup bahagia, melainkan jiwa kita yang memutuskan untuk bahagia. Tersenyumlah pada dunia, namun sebelum itu terjadi, tersenyumlah pada diri sendiri.  

Panci dan Pegangan Kayunya

         Manusia tidak bisa hidup tanpa minum air, makanya manusia ditempatkan di bumi, planet yang berlimpah dengan air. Tidak semua air bisa langsung masuk ke mulut demi menyegarkan tenggorokan, tapi harus air pilihan. Air yang bersih dan menyehatkan. Bila air mineral dalam galon habis sementara toko kelontong di dekat kost sudah tutup, jalan termudah agar saya tetap bisa minum adalah dengan merebus air keran. Yah, sekitar lima menit air akan mendidih dan sudah layak untuk diminum. Sluuurp, glek... glek... glek! Oya, sebelumnya ditunggu dulu supaya airnya dingin.
Alhamdulillah, badan tidak jadi dehidrasi walaupun air mineral dalam galon habis. Ada air keran yang sudah direbus sebagai penggantinya. Saya pun melanjutkan aktifitas lainnya.
Namun satu hal mengganjal saya. Satu hal itu, yang masih tergeletak di atas kompor yang sudah mati seperti sedang kesepian ditinggal begitu saja. Panci dan pegangan kayunya, pahlawan yang sudah menyelamatkan saya dari diare. Kok bisa? Iya, kalau tidak ada panci dan pegangan kayunya, dengan apa saya bisa merebus air. Kompor saja tidak cukup, bukan? Perebusan dengan suhu tertentu telah membunuh kuman-kuman dalam air, sehingga saat air itu diminum tidak ada lagi kuman-kuman jahat yang siap menerjang dan membuat saya sakit perut. Sudah jelas kan, kalau panci dan pegangan kayunya tidak pantas dilupakan begitu saja.


Panci dan pegangan kayunya adalah satu kesatuan yang saling melengkapi dan romantis sekali. Mereka mengajarkan saya tentang banyak hal. Salah satunya adalah kesetiaan. Panci tanpa pegangan kayu bukanlah apa-apa. Dia masih bisa berguna, tapi tentunya bukan lagi menjadi barang yang ramah karena akan merepotkan kita untuk membawanya kemana-mana dalam keadaan panas. Begitu juga dengan pegangan kayu. Dia hanya seonggok kayu tidak bernilai bila tidak tersambung dengan panci. Makanya mereka harus selalu bersama, walau badai menerjang sekalipun. Mereka adalah kombinasi sempurna yang punya misi suci atas nama kemanusiaan: ‘mereka hanya mau membantu kita, tanpa membuat kita terluka’. Pegangan kayunya siap melindungi tangan kita dari panas yang menjalar dari panci karena api kompor. Mereka hadir di dunia sebagai salah satu alat dapur yang paling signifikan. Bayangkan kalau tidak ada mereka, bagaimana bisa ibu kita memasak sup?  Apa mau pakai gentong? Pasti jadinya sup merah berasa tanah. Hehehe...
Walaupun panci pantatnya jadi gosong akibat terpaan panas yang tiada henti-hentinya sementara manusia si empunya tidak berniat menggosok pantat yang gosong itu sepenuh hati sehingga pantat si panci masih item aja, pegangan kayu nggak akan pergi kemana-mana. Dia masih tetap di sana menemani panci, dan akan selalu di situ. Perasaan pegangan kayu tidak pernah berubah, walaupun panci sudah tidak mulus lagi. Begitu pula sebaliknya. Walaupun pegangan kayu sudah hampir lapuk dimakan usia, tidak lagi kokoh seperti dulu, namun panci tidak pernah protes. Saya selama ini tidak pernah tuh, ngeliat panci gerak-erak sendiri terus bilang, “Hei, Pegangan kayu, pergi kamu dariku! Jangan pernah nempel lagi!”. Tidak ada satu orang pun yang pernah mendengarkan ucapan panci seperti itu, kecuali orang itu sedang berhalusinasi.
Itulah kenapa saya bilang, mereka mengajarkan saya tentang kesetiaan. Panci dan pegangan kayu saling bekerja sama untuk menghasilkan manfaat yang tidak kecil, selalu bersama dalam keadaan suka dan duka, serta tidak pernah saling mengeluhkan kekurangan satu sama lain. Walaupun saya juga nggak tahu, apa si pegangan kayu pernah cemburu dengan tutup panci? Hemm, mungkin mereka punya kisah sendiri yang belum pernah terkuak.
Paling tidak kini saya bisa mengerti mengapa Panci dan Pegangan kayu selalu hidup bersama.

Sunday, May 27, 2012

I Believe I can Fly!


Percaya. Satu kata ajaib yang penuh daya magis.

Hanya dengan modal percaya, semuanya akan terasa baik-baik saja.



Percaya akan mimpi.

Kita berani bermimpi, dan mimpi tidak akan mengkhianati kita. Karenanya, kita nggak boleh egois. Kita harus setia dengan mimpi kita. Setia dengan mimpi? Yap, dengan cara nggak pernah memandang remeh mimpi itu sendiri, karena mimpi berhak tumbuh menjadi kenyataan. Mimpi punya nyawa sendiri untuk menampakkan wujud konkretnya - selama kita percaya dan setia dengan mimpi itu. Selama kita masih terus berusaha menghidupkan mimpi itu...



Percaya dengan orang-orang di sekeliling kita.

Kita tidak sedang hidup sendirian di tengah hutan belantara dengan hukum rimba yang mengerikan, tapi kita hidup di sini bersama orang-orang terbaik yang telah ditakdirkan hidup bersama kita. Menghirup udara yang sama, menginjak tanah yang sama, memandang langit yang sama. Yap, mereka adalah bagian dari hidup kita. Percaya bahwa kita bisa memberi apa yang mereka butuhkan. Begitu pula sebaliknya, hidup kita semakin mudah karena mereka telah memberi semua yang kita butuhkan. Mereka ada di sini untuk kita, tentu kita tidak ingin mengecewakan mereka, walaupun hanya dengan sebersit pikiran buruk tentang apa yang mereka lakukan...



Percaya dengan waktu.

Waktu memang tidak akan pernah bisa di paused, walaupun jam dinding kita berhenti berdetak. Mungkin itu karena baterainya habis. Percayalah, yang sebenarnya terjadi adalah waktu tetap akan terus berjalan - ada atau tidaknya baterai di dalam jam dindingmu. Sebenarnya waktu sangat baik hati. Dia setia menemani hidup kita. Dia akan berjalan perlahan apabila kita sedang tekun dengan sesuatu, namun dia akan berjalan cepat apabila kita memang sengaja membuangnya tanpa arti. Kita akan selalu punya waktu untuk bahagia, selama kita merasa bahagia dalam memanfaatkan waktu demi kebaikan...



Percaya dengan cinta.

Cinta masih ada di sini. Cinta nggak akan pergi kemana-mana. Karena cinta tumbuh di hati, dan hati kita aman di dalam rongga peritonium tubuh kita, dia nggak akan pergi jalan-jalan nyari angin. Cinta adalah nurani. Setiap manusia punya itu. Masih percayakah kamu dengan cinta? Kenapa tidak! Cinta nggak pernah bohong, cinta nggak pernah berkhianat. Karena dia masih anak-anak, dan dia bisa baca pikiran orang lain. Semoga kelak ketika dia dewasa, Cinta nggak senyentrik bapaknya. Tahu kan, Cinta itu siapa? Hahaha...



Dan yang paling penting, percaya pada diri sendiri.

Percaya bahwa kita adalah manusia baik-baik yang telah diizinkan hidup di bumi untuk segala kebaikan. Hemm, percaya pada diri sendiri bahwa inilah apa yang kita mau, dan kita akan selalu menjadi seseorang yang kita mau. Kita mau, bukan sekadar apa yang kita inginkan. Tapi kita mau itu. Mau berarti rela - bahkan sangat ikhlas - untuk mewujudkannya. Kita bisa! Itu slogan presiden kita. Tapi, lebih dari itu, kita mau untuk bisa! Bahkan lebih dari bisa, kita-amat-sangat-mampu-dan-bisa-dan-sanggup-luar-biasa-sekali!!!!!



Percaya bahwa, "my life is brilliant!!!"

Because "I believe I can fly!"

Thanks to "pesawatku".


my great pleasure,

dita.




(Ditulis 7 Januari 2012)