Satu hal yang belum saya pahami
seluruhnya adalah diri saya. Ini mungkin
karena saya terlalu sering menatap ke depan, ke orang lain, ke sekeliling,
tidak ke arah diri saya sendiri. Bisa jadi saya kurang sering menundukkan kepala
sampai dagu menyentuh dada, di mana arah pandangnya adalah diri sendiri. Saya
jadi merasa jauh, saya merasa terlalu angkuh. Sudah lama rasanya ingin pulang
ke diri sendiri.
Apa yang kamu ketahui tentang
dirimu?
Pasti banyak, setiap orang punya
ceritanya masing-masing. Saya adalah tipe orang yang lebih suka mendengarkan,
mengamati, memperhatikan daripada ngomong langsung untuk bercerita. Ibarat
sebuah band, saya bukan vokalis, saya bukan pusat perhatian. Saya lebih suka
jadi bagian kostum dan tatarias yang bekerja di belakang layar. Yah, berharap bisa
jadi tempat curhat colongan para
personel band yang necis itu. Ironisnya,
saya justru jarang mendengarkan diri saya sendiri.
Kenapa tiba-tiba jadi suram begini?
Oke, akan saya ubah gaya bahasanya.
Ehem, tes... tes...!
Waktu saya masih SMP, saya sering
mendengar ungkapan tentang ‘menemukan jati diri’. Saya ulangi, ‘menemukan jati
diri’. Langsung terbesit pengertian aneh di benak saya, sekali lagi, tentang
‘menemukan jati diri’. Saat itu saya memang belum paham, dan tidak berniat
bertanya pada siapa pun makna dari ungkapan ini. Hanya otak saya yang bekerja,
dan saya cukup puas dengan jawabannya. Makna yang terpikirkan
adalah, “Orang dewasa mungkin karena sudah terlalu jauh melangkah, mereka justru
lupa jalan pulang ke diri sendiri. Ngapain repot-repot dicari, kalau itu jelas
diri kita. Diri kita mencari dirinya sendiri? Apa orang dewasa tidak punya
sesuatu yang lain untuk dibahas? Rasanya kurang kerjaan sekali.”
Itu dulu, pemikiran saya dulu yang
masih bangga berpredikat sebagai anak-anak.
Dan sekarang, saya termakan ucapan
saya sendiri. Senjata makan tuan.
Bukan, saya bukannya susah
menemukan jati diri, tapi saya sampai sekarang belum selesai menemukan,
menggali, mengeksplorasi diri saya sendiri. Saya masih merupakan sebuah obyek
yang penuh misteri. Terkadang saya main tebak-tebakan. Terkadang saya hanya
ikut-ikutan orang lain – yang pada akhirnya saya tahu bahwa itu sangat
melelahkan.
Suatu sore saya ngemall bersama salah satu sahabat saya
yang sudah lama tidak bertemu. Seperti biasa, saya tidak banyak bicara. Tapi
saya terus tersenyum. Saya mensugesti diri sendiri untuk riang gembira. Saat
akan turun lewat tangga berjalan, saya menyapu pandangan lantai bawah yang
cukup membuat saya bergumam tanpa maksud apapun, “Hemm, Galaxy Mall.”
Itu hanya gumaman, mungkin saja
tidak berarti apa-apa. Tapi itu berhasil mengalihkan perhatian sahabat saya yang
sedari tadi sibuk memperhatikan pesan di telepon
genggamnya. Dia lalu berkata, “Apaan, sih? Ah kamu, selalu gitu. Kebiasaan deh.”
Saya jadi memperlebar senyum,
refleks. Seperti ada sengatan listrik yang berbeda setiap kali ada yang mengatakan
hal semacam itu. Pengen sekali saya bertanya, “Memangnya kenapa? Selalu gimana?
Oh, jadi aku kayak gitu ya? Kamu kok tahu? Kamu kok hafal? Wah, perhatian ya?
Padahal aku sendiri nggak tahu kalo aku selalu begitu. Kamu kok lebih tahu aku
daripada diriku sendiri?”
Saya pun hanya senyum mengambang
dan bingung bagaimana cara mengembalikan lengkungan bibir itu ke tempat
semula. Saya lalu memutar-mutar lagi pertanyaan yang sama di kepala saya
sendiri.
Mungkin memang tidak ada salahnya
apabila orang lain lebih bisa menangkap kelakuan kita yang terus menerus
dilakukan sehingga menjadi kebiasaan. Logis memang, karena kita harus melihat
cermin untuk bisa tahu keadaan diri kita sendiri, sedangkan orang lain tidak.
Namun kadang muncul ego bahwa, tidak ada orang lain yang tahu persis bagaimana
saya, wong saya sendiri belum sepenuhnya tahu! Tapi tak apalah, terserah orang
mau berkata apa. Justru dari orang lain kita bisa mengetahui kekurangan dan
kelebihan diri kita. Namun bukan berarti baik buruknya tingkah laku kita harus dinilai
orang lain, karena setiap manusia punya standarnya masing-masing tentang bagaimana
suatu perilaku atau keputusan seseorang itu benar atau salah. Jadi, bukan orang
lain jurinya. Melainkan Tuhan, melalui hati nurani yang sudah disematkan pada
diri kita masing-masing. Semua manusia punya hati nurani, yang sifatnya suci dan jujur. Hanya
saja sulit untuk mendengarkannya ketika hati ini sudah tak lagi bersih, penuh
dengan noda keserakahan, kesombongan, dan ketidakpedulian. Adakalanya, menurut
saya, menjadi orang yang ‘ndeso’ jauh lebih aman daripada menjadi orang yang
penuh tuntutan terhadap dirinya sendiri, mengejar kehidupan glamour di kota namun penuh dengan
keangkuhan. ‘Ndeso’ asal tidak kampungan.
Setiap orang memiliki kotak ajaib dalam
dirinya masing-masing yang tidak akan habis dan selesai untuk dieksplorasi
karena setiap hari ia tumbuh dan berkembang. Ia adalah jiwa. Tubuh yang segar
bugar tanpa cela pun bukan jaminan untuk hidup bahagia, melainkan jiwa kita yang
memutuskan untuk bahagia. Tersenyumlah pada dunia, namun sebelum itu terjadi,
tersenyumlah pada diri sendiri.
