Wednesday, June 13, 2012

Kotak Ajaib itu Bernama Saya

        Satu hal yang belum saya pahami seluruhnya adalah diri saya.  Ini mungkin karena saya terlalu sering menatap ke depan, ke orang lain, ke sekeliling, tidak ke arah diri saya sendiri. Bisa jadi saya kurang sering menundukkan kepala sampai dagu menyentuh dada, di mana arah pandangnya adalah diri sendiri. Saya jadi merasa jauh, saya merasa terlalu angkuh. Sudah lama rasanya ingin pulang ke diri sendiri.

Apa yang kamu ketahui tentang dirimu?

Pasti banyak, setiap orang punya ceritanya masing-masing. Saya adalah tipe orang yang lebih suka mendengarkan, mengamati, memperhatikan daripada ngomong langsung untuk bercerita. Ibarat sebuah band, saya bukan vokalis, saya bukan pusat perhatian. Saya lebih suka jadi bagian kostum dan tatarias yang bekerja di belakang layar. Yah, berharap bisa jadi tempat curhat colongan para personel band yang necis itu. Ironisnya, saya justru jarang mendengarkan diri saya sendiri.

Kenapa tiba-tiba jadi suram begini?

Oke, akan saya ubah gaya bahasanya.

Ehem, tes... tes...!

Waktu saya masih SMP, saya sering mendengar ungkapan tentang ‘menemukan jati diri’. Saya ulangi, ‘menemukan jati diri’. Langsung terbesit pengertian aneh di benak saya, sekali lagi, tentang ‘menemukan jati diri’. Saat itu saya memang belum paham, dan tidak berniat bertanya pada siapa pun makna dari ungkapan ini. Hanya otak saya yang bekerja, dan saya cukup puas dengan jawabannya. Makna yang terpikirkan adalah, “Orang dewasa mungkin karena sudah terlalu jauh melangkah, mereka justru lupa jalan pulang ke diri sendiri. Ngapain repot-repot dicari, kalau itu jelas diri kita. Diri kita mencari dirinya sendiri? Apa orang dewasa tidak punya sesuatu yang lain untuk dibahas? Rasanya kurang kerjaan sekali.”

Itu dulu, pemikiran saya dulu yang masih bangga berpredikat sebagai anak-anak.

Dan sekarang, saya termakan ucapan saya sendiri. Senjata makan tuan.

Bukan, saya bukannya susah menemukan jati diri, tapi saya sampai sekarang belum selesai menemukan, menggali, mengeksplorasi diri saya sendiri. Saya masih merupakan sebuah obyek yang penuh misteri. Terkadang saya main tebak-tebakan. Terkadang saya hanya ikut-ikutan orang lain – yang pada akhirnya saya tahu bahwa itu sangat melelahkan.

Suatu sore saya ngemall bersama salah satu sahabat saya yang sudah lama tidak bertemu. Seperti biasa, saya tidak banyak bicara. Tapi saya terus tersenyum. Saya mensugesti diri sendiri untuk riang gembira. Saat akan turun lewat tangga berjalan, saya menyapu pandangan lantai bawah yang cukup membuat saya bergumam tanpa maksud apapun, “Hemm, Galaxy Mall.”

Itu hanya gumaman, mungkin saja tidak berarti apa-apa. Tapi itu berhasil mengalihkan perhatian sahabat saya yang sedari tadi sibuk memperhatikan pesan di telepon genggamnya. Dia lalu berkata, “Apaan, sih? Ah kamu, selalu gitu. Kebiasaan deh.”

Saya jadi memperlebar senyum, refleks. Seperti ada sengatan listrik yang berbeda setiap kali ada yang mengatakan hal semacam itu. Pengen sekali saya bertanya, “Memangnya kenapa? Selalu gimana? Oh, jadi aku kayak gitu ya? Kamu kok tahu? Kamu kok hafal? Wah, perhatian ya? Padahal aku sendiri nggak tahu kalo aku selalu begitu. Kamu kok lebih tahu aku daripada diriku sendiri?”

          Saya pun hanya senyum mengambang dan bingung bagaimana cara mengembalikan lengkungan bibir itu ke tempat semula. Saya lalu memutar-mutar lagi pertanyaan yang sama di kepala saya sendiri.

Mungkin memang tidak ada salahnya apabila orang lain lebih bisa menangkap kelakuan kita yang terus menerus dilakukan sehingga menjadi kebiasaan. Logis memang, karena kita harus melihat cermin untuk bisa tahu keadaan diri kita sendiri, sedangkan orang lain tidak. Namun kadang muncul ego bahwa, tidak ada orang lain yang tahu persis bagaimana saya, wong saya sendiri belum sepenuhnya tahu! Tapi tak apalah, terserah orang mau berkata apa. Justru dari orang lain kita bisa mengetahui kekurangan dan kelebihan diri kita. Namun bukan berarti baik buruknya tingkah laku kita harus dinilai orang lain, karena setiap manusia punya standarnya masing-masing tentang bagaimana suatu perilaku atau keputusan seseorang itu benar atau salah. Jadi, bukan orang lain jurinya. Melainkan Tuhan, melalui hati nurani yang sudah disematkan pada diri kita masing-masing. Semua manusia punya hati nurani, yang sifatnya suci dan jujur. Hanya saja sulit untuk mendengarkannya ketika hati ini sudah tak lagi bersih, penuh dengan noda keserakahan, kesombongan, dan ketidakpedulian. Adakalanya, menurut saya, menjadi orang yang ‘ndeso’ jauh lebih aman daripada menjadi orang yang penuh tuntutan terhadap dirinya sendiri, mengejar kehidupan glamour di kota namun penuh dengan keangkuhan. ‘Ndeso’ asal tidak kampungan.

Setiap orang memiliki kotak ajaib dalam dirinya masing-masing yang tidak akan habis dan selesai untuk dieksplorasi karena setiap hari ia tumbuh dan berkembang. Ia adalah jiwa. Tubuh yang segar bugar tanpa cela pun bukan jaminan untuk hidup bahagia, melainkan jiwa kita yang memutuskan untuk bahagia. Tersenyumlah pada dunia, namun sebelum itu terjadi, tersenyumlah pada diri sendiri.  

Panci dan Pegangan Kayunya

         Manusia tidak bisa hidup tanpa minum air, makanya manusia ditempatkan di bumi, planet yang berlimpah dengan air. Tidak semua air bisa langsung masuk ke mulut demi menyegarkan tenggorokan, tapi harus air pilihan. Air yang bersih dan menyehatkan. Bila air mineral dalam galon habis sementara toko kelontong di dekat kost sudah tutup, jalan termudah agar saya tetap bisa minum adalah dengan merebus air keran. Yah, sekitar lima menit air akan mendidih dan sudah layak untuk diminum. Sluuurp, glek... glek... glek! Oya, sebelumnya ditunggu dulu supaya airnya dingin.
Alhamdulillah, badan tidak jadi dehidrasi walaupun air mineral dalam galon habis. Ada air keran yang sudah direbus sebagai penggantinya. Saya pun melanjutkan aktifitas lainnya.
Namun satu hal mengganjal saya. Satu hal itu, yang masih tergeletak di atas kompor yang sudah mati seperti sedang kesepian ditinggal begitu saja. Panci dan pegangan kayunya, pahlawan yang sudah menyelamatkan saya dari diare. Kok bisa? Iya, kalau tidak ada panci dan pegangan kayunya, dengan apa saya bisa merebus air. Kompor saja tidak cukup, bukan? Perebusan dengan suhu tertentu telah membunuh kuman-kuman dalam air, sehingga saat air itu diminum tidak ada lagi kuman-kuman jahat yang siap menerjang dan membuat saya sakit perut. Sudah jelas kan, kalau panci dan pegangan kayunya tidak pantas dilupakan begitu saja.


Panci dan pegangan kayunya adalah satu kesatuan yang saling melengkapi dan romantis sekali. Mereka mengajarkan saya tentang banyak hal. Salah satunya adalah kesetiaan. Panci tanpa pegangan kayu bukanlah apa-apa. Dia masih bisa berguna, tapi tentunya bukan lagi menjadi barang yang ramah karena akan merepotkan kita untuk membawanya kemana-mana dalam keadaan panas. Begitu juga dengan pegangan kayu. Dia hanya seonggok kayu tidak bernilai bila tidak tersambung dengan panci. Makanya mereka harus selalu bersama, walau badai menerjang sekalipun. Mereka adalah kombinasi sempurna yang punya misi suci atas nama kemanusiaan: ‘mereka hanya mau membantu kita, tanpa membuat kita terluka’. Pegangan kayunya siap melindungi tangan kita dari panas yang menjalar dari panci karena api kompor. Mereka hadir di dunia sebagai salah satu alat dapur yang paling signifikan. Bayangkan kalau tidak ada mereka, bagaimana bisa ibu kita memasak sup?  Apa mau pakai gentong? Pasti jadinya sup merah berasa tanah. Hehehe...
Walaupun panci pantatnya jadi gosong akibat terpaan panas yang tiada henti-hentinya sementara manusia si empunya tidak berniat menggosok pantat yang gosong itu sepenuh hati sehingga pantat si panci masih item aja, pegangan kayu nggak akan pergi kemana-mana. Dia masih tetap di sana menemani panci, dan akan selalu di situ. Perasaan pegangan kayu tidak pernah berubah, walaupun panci sudah tidak mulus lagi. Begitu pula sebaliknya. Walaupun pegangan kayu sudah hampir lapuk dimakan usia, tidak lagi kokoh seperti dulu, namun panci tidak pernah protes. Saya selama ini tidak pernah tuh, ngeliat panci gerak-erak sendiri terus bilang, “Hei, Pegangan kayu, pergi kamu dariku! Jangan pernah nempel lagi!”. Tidak ada satu orang pun yang pernah mendengarkan ucapan panci seperti itu, kecuali orang itu sedang berhalusinasi.
Itulah kenapa saya bilang, mereka mengajarkan saya tentang kesetiaan. Panci dan pegangan kayu saling bekerja sama untuk menghasilkan manfaat yang tidak kecil, selalu bersama dalam keadaan suka dan duka, serta tidak pernah saling mengeluhkan kekurangan satu sama lain. Walaupun saya juga nggak tahu, apa si pegangan kayu pernah cemburu dengan tutup panci? Hemm, mungkin mereka punya kisah sendiri yang belum pernah terkuak.
Paling tidak kini saya bisa mengerti mengapa Panci dan Pegangan kayu selalu hidup bersama.