Manusia tidak bisa hidup tanpa
minum air, makanya manusia
ditempatkan di bumi, planet yang berlimpah dengan air. Tidak semua air bisa
langsung masuk ke mulut demi menyegarkan tenggorokan, tapi harus air pilihan.
Air yang bersih dan menyehatkan. Bila air mineral dalam galon habis sementara
toko kelontong di dekat kost sudah tutup, jalan termudah agar saya tetap bisa
minum adalah dengan merebus air keran. Yah, sekitar lima menit air akan
mendidih dan sudah layak untuk diminum. Sluuurp, glek... glek... glek! Oya,
sebelumnya ditunggu dulu supaya airnya dingin.
Alhamdulillah, badan tidak jadi
dehidrasi walaupun air mineral dalam galon habis. Ada air keran yang sudah
direbus sebagai penggantinya. Saya pun melanjutkan aktifitas lainnya.
Namun satu hal mengganjal saya.
Satu hal itu, yang masih tergeletak di atas kompor yang sudah mati seperti
sedang kesepian ditinggal begitu saja. Panci dan pegangan kayunya, pahlawan
yang sudah menyelamatkan saya dari diare. Kok bisa? Iya, kalau tidak ada panci
dan pegangan kayunya, dengan apa saya bisa merebus air. Kompor saja tidak
cukup, bukan? Perebusan dengan suhu tertentu telah membunuh kuman-kuman dalam
air, sehingga saat air itu diminum tidak ada lagi kuman-kuman jahat yang siap
menerjang dan membuat saya sakit perut. Sudah jelas kan, kalau panci dan
pegangan kayunya tidak pantas dilupakan begitu saja.
Panci dan pegangan kayunya adalah
satu kesatuan yang saling melengkapi dan romantis sekali. Mereka mengajarkan
saya tentang banyak hal. Salah satunya adalah kesetiaan. Panci tanpa pegangan
kayu bukanlah apa-apa. Dia masih bisa berguna, tapi tentunya bukan lagi menjadi
barang yang ramah karena akan merepotkan kita untuk membawanya kemana-mana
dalam keadaan panas. Begitu juga dengan pegangan kayu. Dia hanya seonggok kayu
tidak bernilai bila tidak tersambung dengan panci. Makanya mereka harus selalu
bersama, walau badai menerjang sekalipun. Mereka adalah kombinasi sempurna yang
punya misi suci atas nama kemanusiaan: ‘mereka hanya mau membantu kita, tanpa
membuat kita terluka’. Pegangan kayunya siap melindungi tangan kita dari panas
yang menjalar dari panci karena api kompor. Mereka hadir di dunia sebagai salah
satu alat dapur yang paling signifikan. Bayangkan kalau tidak ada mereka,
bagaimana bisa ibu kita memasak sup? Apa
mau pakai gentong? Pasti jadinya sup merah berasa tanah. Hehehe...
Walaupun panci pantatnya jadi
gosong akibat terpaan panas yang tiada henti-hentinya sementara manusia si
empunya tidak berniat menggosok pantat yang gosong itu sepenuh hati sehingga
pantat si panci masih item aja, pegangan kayu nggak akan pergi kemana-mana. Dia
masih tetap di sana menemani panci, dan akan selalu di situ. Perasaan pegangan
kayu tidak pernah berubah, walaupun panci sudah tidak mulus lagi. Begitu pula
sebaliknya. Walaupun pegangan kayu sudah hampir lapuk dimakan usia, tidak lagi
kokoh seperti dulu, namun panci tidak pernah protes. Saya selama ini tidak
pernah tuh, ngeliat panci gerak-erak sendiri terus bilang, “Hei, Pegangan kayu,
pergi kamu dariku! Jangan pernah nempel lagi!”. Tidak ada satu orang pun yang
pernah mendengarkan ucapan panci seperti itu, kecuali orang itu sedang
berhalusinasi.
Itulah kenapa saya bilang, mereka
mengajarkan saya tentang kesetiaan. Panci dan pegangan kayu saling bekerja sama
untuk menghasilkan manfaat yang tidak kecil, selalu bersama dalam keadaan suka
dan duka, serta tidak pernah saling mengeluhkan kekurangan satu sama lain.
Walaupun saya juga nggak tahu, apa si pegangan kayu pernah cemburu dengan tutup
panci? Hemm, mungkin mereka punya kisah sendiri yang belum pernah terkuak.
Paling tidak kini saya bisa mengerti
mengapa Panci dan Pegangan kayu selalu hidup bersama.

No comments:
Post a Comment
Komentar yuuukkk~