Wednesday, June 13, 2012

Panci dan Pegangan Kayunya

         Manusia tidak bisa hidup tanpa minum air, makanya manusia ditempatkan di bumi, planet yang berlimpah dengan air. Tidak semua air bisa langsung masuk ke mulut demi menyegarkan tenggorokan, tapi harus air pilihan. Air yang bersih dan menyehatkan. Bila air mineral dalam galon habis sementara toko kelontong di dekat kost sudah tutup, jalan termudah agar saya tetap bisa minum adalah dengan merebus air keran. Yah, sekitar lima menit air akan mendidih dan sudah layak untuk diminum. Sluuurp, glek... glek... glek! Oya, sebelumnya ditunggu dulu supaya airnya dingin.
Alhamdulillah, badan tidak jadi dehidrasi walaupun air mineral dalam galon habis. Ada air keran yang sudah direbus sebagai penggantinya. Saya pun melanjutkan aktifitas lainnya.
Namun satu hal mengganjal saya. Satu hal itu, yang masih tergeletak di atas kompor yang sudah mati seperti sedang kesepian ditinggal begitu saja. Panci dan pegangan kayunya, pahlawan yang sudah menyelamatkan saya dari diare. Kok bisa? Iya, kalau tidak ada panci dan pegangan kayunya, dengan apa saya bisa merebus air. Kompor saja tidak cukup, bukan? Perebusan dengan suhu tertentu telah membunuh kuman-kuman dalam air, sehingga saat air itu diminum tidak ada lagi kuman-kuman jahat yang siap menerjang dan membuat saya sakit perut. Sudah jelas kan, kalau panci dan pegangan kayunya tidak pantas dilupakan begitu saja.


Panci dan pegangan kayunya adalah satu kesatuan yang saling melengkapi dan romantis sekali. Mereka mengajarkan saya tentang banyak hal. Salah satunya adalah kesetiaan. Panci tanpa pegangan kayu bukanlah apa-apa. Dia masih bisa berguna, tapi tentunya bukan lagi menjadi barang yang ramah karena akan merepotkan kita untuk membawanya kemana-mana dalam keadaan panas. Begitu juga dengan pegangan kayu. Dia hanya seonggok kayu tidak bernilai bila tidak tersambung dengan panci. Makanya mereka harus selalu bersama, walau badai menerjang sekalipun. Mereka adalah kombinasi sempurna yang punya misi suci atas nama kemanusiaan: ‘mereka hanya mau membantu kita, tanpa membuat kita terluka’. Pegangan kayunya siap melindungi tangan kita dari panas yang menjalar dari panci karena api kompor. Mereka hadir di dunia sebagai salah satu alat dapur yang paling signifikan. Bayangkan kalau tidak ada mereka, bagaimana bisa ibu kita memasak sup?  Apa mau pakai gentong? Pasti jadinya sup merah berasa tanah. Hehehe...
Walaupun panci pantatnya jadi gosong akibat terpaan panas yang tiada henti-hentinya sementara manusia si empunya tidak berniat menggosok pantat yang gosong itu sepenuh hati sehingga pantat si panci masih item aja, pegangan kayu nggak akan pergi kemana-mana. Dia masih tetap di sana menemani panci, dan akan selalu di situ. Perasaan pegangan kayu tidak pernah berubah, walaupun panci sudah tidak mulus lagi. Begitu pula sebaliknya. Walaupun pegangan kayu sudah hampir lapuk dimakan usia, tidak lagi kokoh seperti dulu, namun panci tidak pernah protes. Saya selama ini tidak pernah tuh, ngeliat panci gerak-erak sendiri terus bilang, “Hei, Pegangan kayu, pergi kamu dariku! Jangan pernah nempel lagi!”. Tidak ada satu orang pun yang pernah mendengarkan ucapan panci seperti itu, kecuali orang itu sedang berhalusinasi.
Itulah kenapa saya bilang, mereka mengajarkan saya tentang kesetiaan. Panci dan pegangan kayu saling bekerja sama untuk menghasilkan manfaat yang tidak kecil, selalu bersama dalam keadaan suka dan duka, serta tidak pernah saling mengeluhkan kekurangan satu sama lain. Walaupun saya juga nggak tahu, apa si pegangan kayu pernah cemburu dengan tutup panci? Hemm, mungkin mereka punya kisah sendiri yang belum pernah terkuak.
Paling tidak kini saya bisa mengerti mengapa Panci dan Pegangan kayu selalu hidup bersama.

No comments:

Post a Comment

Komentar yuuukkk~