Wednesday, October 3, 2012

The another of beginning

Ketika manusia diajari membaca, bukankah sebenarnya mereka dilahirkan untuk menulis?

Bukankah sebenarnya manusia dilahirkan untuk menulis. Karena mereka bisa membaca.

Bekal mereka adalah membaca. Percuma atau sia-sia perjuangan manusia untuk belajar membaca kalau toh seandainya mereka tidak bisa menulis. Bukan tidak bisa, lebih tepatnya tidak mau. Dan itu, suatu keadaan yang ironis.

Dan saya hanya bisa mengutuk diri sendiri.

Bummm!!! Saya jadi.... putri salju! Loh?

Bukan, bukan kue kering khas hidangan lebaran yang bertabur gula halus putih lembut layaknya salju. Tapi beneran seorang putri, yang doyannya makan salju. Nah.

Saya malu sama keyboard laptop -okey, saya emang gak pake tablet- karena jari-jari tangan saya kaku. Nggak selincah dulu saat sibuk-sibuknya bikin laporan penelitian.

Otak saya, hemm, masih belum mencair sepenuhnya. Tapi saya berkomitmen penuh untuk selalu menghangatkannya agar bisa bekerja dengan optimal, maksimal!

Menulis, ehem, kembali lagi ke topik semula.
Menulis sebenarnya bukanlah suatu pekerjaan yang sulit (kalau beneran niat plus ada deadline yang mengancam) dan tidak perlu dibuat sulit. Menulis sebenarnya adalah sebuah cara untuk menuangkan ide yang ada di kepala. Apa pun itu. Sarana untuk menumpahkan semua uneg-uneg atau bahkan teori sinting yang kita buat sendiri. Teori buatan diri sendiri, apa itu nggak cukup keren?
 
Menulis seperti curhat atau sekadar cara untuk menguji, seberapa peka kita dengan keadaaan. Seperti me-review ulang kehidupan atau pelajaran hidup yang sangat berharga. Sebuah cara untuk menghargai hidup, bahwa setiap momennya sangat sayang apabila tidak diabadikan. Lewat tulisan. And that's why, saya nongkrong lagi membuka blog ini dan mulai bercuap-cuap lagi.

Gaya penulisan itu banyak. Dan saya rasa, saya belum menemukan cara saya pribadi. Belum khas. Belum beda. Hanya sekadar: gaya bebas. Hehehehe...

And... this is one of the random.



No comments:

Post a Comment

Komentar yuuukkk~